[Review] Bloody G501 Headset Virtual Surround 7.1 ( By Yudo_W – kaskus )

Bloody Super Gaming Headset G501

Back again gan dengan review headset gaming 7.1 keluaran merk Bloody, super headset yang bisa ngendalikan suara efek di dalam game, terutama untuk FPS game gan. Aneh kan..? Monggo silahkan disimak penjabaran headsetnya, moga-moga gak bosen bacanya agak panjang soalnya gan…

Unboxing Bloody G501

Kemasan produk Bloody seperti biasa gan berwarna hitam kombinasi merah gan, model G501 ini merupakan generasi pertama headset gaming Bloody.

Bila kita buka cover depan box G501 didalamnya tampak Headset dan panel control di bagian tengahnya, nuansanya udah terasa gaming banget gan, di bagian cover dalam di tunjukkan beberapa fitur fisik dari headset ini gan, fitur untuk Headband Foam, Comfortable Earmuff, 40mm drivers with Neodymium Magnets, Retracable Microphone, Metal Sheet Headband, Angle adjustment, Braided Cable.

Lalu spesifikasi fisik headset (ukuran driver speaker, frequency response, dll) dapat dilihat pada sisi kiri box G501, dan bagian belakang box G501 dapat dibaca mengenai fitur software G501, yaitu Tonemaker Software, Mode Switch dan 5 Profil control, fitur-fiturnya akan kita bahas dibagian lain.

Didalam box G501 terdapat beberapa perlengkapan, gaming headset G501, buku petunjuk Instalasi , buku catalog produk Bloody, dan kartu petunjuk link download software G501 (TONEMAKER). Sama dengan produk-produk mouse Bloody yang baru, software G501 ini terlebih dahulu harus di download, jadi jangan berharap agan bisa dapat cd software di dalem box G501.

Nah kalo pas agan kesulitan atau gak ada koneksi internet di rumah, ada baiknya kalo agan download di sekolahan atau kantor atau di balai RW barangkali ada Wifi yang gratisan hehehe.. atau minta tolong ke tokonya biasanya mau bantu, kalo agan serius beli hehehe…

Fitur fisik G501

Okay gan sekarang kita pantau bagaimana kelebihan pada fisik G501, kita mulai dari bentuk headset G501

Waktu ane pegang headsetnya Gan, terasa lemes di bagian headband-nya sama sekali gak kaku, tujuannya untuk menyesuaikan untuk semua ukuran kepala, busa headband juga terasa empuk jadi membantu headset agar tidak membebani bagian atas kepala, nyaman gan waktu dipakai, hal ini juga didukung dengan plat metal untuk perpanjangan ukuran sekaligus untuk dijadikan kekuatan body headset.

Untuk Earmuff atau bantalan telinga didesain sangat empuk, membuat telinga menjadi sangat nyaman saat menggunakan headset ini. Ada yang juga terasa aneh buat ane gan, selain ringan banget ada factor lain yang bikin pas banget di telinga

Ternyata ini gan pada bagian penghubung speaker dan headband dapat di bend atau dibengkokkan gan, tidak banyak tekukannya, tapi sangat terasa effeknya. Bedanya dengan produk lain, ini setahu ane lhoh gan, maaf kalau penilaian saya salah, pada bagian hubungan antara sepeaker headset dan headband kadang malah paten, gak bisa di bend, ada juga yang bisa ditekuk tapi arah tekukannya ke atas dan bawah, ada juga yg mirip dengan tekukan headset G501 ini tapi sudut tekukannya hingga 90 derajat, tekukan yg terlalu banyak biasanya bikin kabel cepat putus bagian dalemnya.

Jadi sudut tekuk Bloody ini ane pikir jadi solusi buat permasalahan kabel gan, selain kabel gak cepat rusak dibagian sambungan, karena tekukannya cuma sedikit, kenyamanan di telinga masih bisa kita dapatkan.

Berikutnya microphone gan, microphone termasuk bagian yang diperlukan di game headset, juga untuk percakapan di game online. Waktu kita gak pakaiuntuk game online atau chat, ane pribadi gan terus terang merasa agak terganggu dengan keberadaan microphone di headset, walaupun udah di tekuk.

Pada Bloody G501 microphone bisa di tarik ulur, microphone sendiri juga menggunakan kabel tebal, bisa di tekuk, tapi kabel ini juga bisa di dorong kedalam headset

Ringkes banget gan, serasa gak pakai microphone jadinya, good design, jadi lebih nyaman kalo buat dengerin music, atau pas dibuat nonton pilem dewasa, pas malem-malem, biar gak kedengeran mahluk-mahluk dibawah umur hehehe…

Bagian terakhir Sound Control, alat ini yang akan menghubungkan kendali agan pada software Tonemaker. Sound control terdiri dari beberapa switch, empat Switch tepatnya gan.

Switch pertama : Switch Audio Mode, pada switch ini terdapat 3 Kode pada switch (G – 2.0 – 7.1) yaitu : kode G = Game mode, kode 2.0 = 2.0 Channel Audio, kode 7.1 = 7.1 Channel Audio Mode.
Switch kedua : Volume control , untuk menaik dan menurunkan suara pada headset
Switch ketiga : Microphone kode 0 = Mic. Off, kode 1 = Mic. On
Switch keempat : tombol berlogo Bloody, Tone Switch atau switch profile, switch ini berfungsi untuk mengubah pilihan beberapa profil suara, sesuai dengan seting agan sendiri, switch ini aktif di semua mode, bisa untuk Mode Audio Game, 2.0 Music atau juga untuk 7.1 Surround

Seting Suara pada software TONEMAKER

Menu Game Mode

Nah sekarang menginjak ke Menu untuk Game Mode, pada menu ini agan bisa membuat 4 profil baru, sebenarnya ada lima profil, hanya profil pertama dibuat default, jadi gak bisa di edit setingnya. Disana juga bisa memilih seting dari jenis game yang akan agan mainkan, tapi ini juga harus diseting sendiri ya gan, Bloody memberi contoh game AVA, CF (Cross Fire) dan CS (Counter Strike). Maaf buat agan-agan pecinta PB (Point Blank), kayanya agan mesti bikin sendiri tuh setingannya, yang doyan PB emang banyak orang sini, kasusnya sama kaya Blackberry yg populer di Indonesia hehehe…

Berikut ini tampilan Tonemaker dari sini agan bisa melakukan seting sesuai dengan kebutuhan agan. Pada gambar tampak ada 3 bagian yang terpisah, suara langkah kaki, suara senjata, dan change weapon

Ane kasih contoh hasil test menggunakan game Battlefield gan, moga-moga dimaklumi, lalu ane test dengan membikin profil baru, suara langkah kaki ane tarik paling atas gan, sementara untuk senjata ane minimalkan. Pas mulai main di game Battlefield memang terasa gan suara langkah kaki tap..tap..nya jelas banget

Begitu pula saat kita seting tombol audio pada posisi suara efek senjata di tinggikan sedang efek yang lain direndahkan, tampak perbedaan yang siknifikan antara efek suara yang muncul pada game. Software Bloody Tonemaker benar-benar mampu memilah efek-efek suara pada game, mana yang lebih agan butuhkan, agan bisa men-setingnya melalui software ini. Sejauh ini ane baru tahu software macem ini gan dari berbagai gaming headset yang pernah ane jamah sebelumnya.

Benchmark

Sebenernya untuk benchmark atau perbandingan produk, ane mendapat kesulitan mendapat produk pembanding yang setara baik harga dan fiturnya, namum karena syarat dari admin harus ada benchmark sebagai perbandingan yang bisa dijadikan patokan untuk mengetahui kemampuan produk ini, akhirnya ane memutuskan untuk membandingkan Bloody gaming headset 7.1 ch G501 ini dengan gaming headset 7.1 ch merk Sades SA-905 (Itupun karena ada yang rela minjemin hehehe..)

Ane menganggap Sades ini merupakan perwakilan dari kebanyakan gaming headset 7.1 ch yang ada dipasaran, ane suka gan sama model headset keluaran Sades gan, futuristik dan body-nya gaming banget menurut ane. Dan banyak headset yang sejenis dengan fitur dan software yang mirip satu dengan yang lain, jadi mohon maaf apabila ada kekurangan pada bagian benchmarknya.

Okay gan kita mulai perbandingan head to head antara Bloody G501 dengan Sades SA-905, kita mulai check dari fitur fisiknya gan…

Perbandingan dari spesifikasi kita check dari drivers / speaker yang digunakan :
• Bloody G501 : Neodimium magnet 40mm drivers, Sensitivity 100dB, Impedance 32 Ohm, Freq. Response 20-2000Hz
• Sades SA-905 : 40mm drivers, Sensitivity 111dB, Impedance 32 Ohm, Freq. Response 20-2000Hz

Dari sini bisa kita lihat kesamaan fisik driver / speaker yang digunakan, standard sama gan, hanya disebutkan bahwa Bloody G501 menggunakan Neodimium magnet, dimana Neodimium adalah magnet type rare-earth magnet, permanen magnet gan. Ane untuk ini gak bisa memastikan karena mesti bongkar casing kedua headset, hanya disebutkan di kemasan Bloody dan tidak disebutkan di kemasan Sades, cuma untuk ini ane abaikan saja gan jadi kita anggap sama secara spesifikasi.

Perbandingan dari bentuk fisik atau model headsetnya :

Bloody G501 :
• Headband : Bentuk melingkar secara penampilan tampak bagus atau pas bila dilihat saat digunakan pada kepala, menggunakan foam yang di susun secara khusus dengan bahan kusus pula, hingga tidak terasa menekan saat menyentuh bagian atas kepala. Bloody menggunakan metal sheet headband untuk menjaga bentuk headset dan berfungsi untuk memperpanjang dan memendekkan bentuk headset agar pas dikepala, hanya metal sheet yang dibiarkan kelihatan terbuka (tampak logamnya)mengurangi keserasian tampilan headset ini. Headband didesain sangat lentur, kemungkinan dikarenakan bahan metalsheet-nya, ini mempengaruhi kenyamanan headband saat digunakan.

Sades SA-905 :
• Headband : Bentuk tidak melingkar sempurna, nampak kurang manis saat dilihat dari depan waktu digunakan di kepala, bentuk tidak melingkar ini juga mempengaruhi posisi tekan foam pada bagian atas kepala, walau foam bagian atas di desain dengan foam empuk, tekanan yang terjadi saat digunakan lama pasti akan tetap terasa pada bagian atas kepala, menggunakan metal sheet headband yang dibungkus bahan plastik hitam, hal ini mempengaruhi penampilan headset dengan tidak menampakkan bahan metal pada headband, dominasi warna hitam merah terjaga.
Score : Bloody = 8.5 / Sades = 8.0

Bloody G501 :
• Earmuff : Earmuff didesain dengan bahan yang empuk membuat rasa nyaman di telinga, pada bagian earmuff ini ada penambahan desain fisiknya, pada bagian atas earmuff dapat sedikit dapat diputar, dengan desain ini membantu memberi kenyamanan pada para pengguna yang memiliki bentuk telinga yang agak membuka, sekaligus dengan putaran earmuff yang tidak sampai 90 derajat ini tidak akan kerusakan kabel dalam earmuff, saat sering bergerak. Menggunakan lampu Led yang menyala saat digunakan, atau saat aktif dipakai, di kedua sisi kanan dan kiri headset.

Sades SA-905 :
• Earmuff : Earmuff didesain dengan bahan yang empuk yang nyaman saat digunakan telinga, berbeda dengan Bloody, SA-905 ini pada bagian atas Earmuff-nya didesain paten, tapi pada bagian earmuff, mirip dengan Bloody didesain bergerak kiri kanan, hanya kalau Bloody dibagian atas Earmuff, kalau Sades di bagian tengah Earmuff. Dilengkapi dengan hiasan lampu led, hanya saja lampunya hanya ada dibagian kanan headset aja, karena disebelah kiri ada microphone, jadi tidak bisa ditambahkan lampu Led pada bagian ini.
Score : Bloody = 8.5 / Sades = 8.0

Bloody G501 :
• Microphone : Didesain unik dengan Retractable Microphone, beda dengan kebanyakan headset yang menggunakan microphone dengan model putar, model plug-in (bisa dilepas) dan model bendable (lentur bisa ditekuk). Bloody menampilkan model Microphone tarik ulur, tampak efisien saat tidak ditarik, tidak mengganggu saat digunakan tanpa menggunakan fungsi microphonenya.

Sades SA-905:
• Microphone : Microphone SA-905 menggunakan model microphone putar, pada sisi kiri headset, model microphone standard seperti kebanyakan headset lain. Menggunakan bahan plastic, tidak bisa ditekuk.

Score : Bloody = 9.0 / Sades = 8.5

Bloody G501 :
• Control Switch : Posisi control switch pada bagian tengah kabel headset, dilengkapi 4 tombol atau switch dengan fungsi : control Volume, control Microphone, control Headset 3 Mode (Game, 2.0 ch, 7.1 ch) dan control Profile (5 mode profile, bisa aktif di semua mode, Game, 2.0 Ch dan 7.1 Ch)

Sades SA-905 :
• Control Switch : Posisi pada bagian tengah kabel headset, dilengkapi 4 tombol atau switch dengan fungsi : 2 tombol untuk control + dan – Volume, control Microphone dan control Mute.

Score : Bloody = 9.0 / Sades = 8.0

Bloody G501 :
• Software Bloody G501 menggunakan software Bloody Tonemaker, bisa didownload langsung pada website Bloody (tidak ada pada kemasan G501).
• Software Tonemaker dapat menyimpan 5 profile, yang bisa diseting sesuai keinginan penggunanya, dan dapat aktif langsung dengan menekan tombol profile pada control switch headset.

Sades SA-905 :
• Software Sades SA-905 menggunakan Sades Driver 7.1 Gaming Headset, sudah include pada kemasan produk, juga bisa di ambil dari website Sades.
• Seting equalizer dapat di ubah-ubah hanya melalui software Sades.

Score : Bloody = 9.0 / Sades = 7.0

Perbandingan dari Testing Sound result :

Software dan Media untuk test :
1. Game : Battle Field (offline FPS game)
2. Movie : Fast Five 1080p BRRIP x264 7.1 CH AAC
3. Music : John Williams (Classical Guitar Album), Cranberries (Stars Album), FLAC

1. Untuk Game :
- Bloody G501 lebih unggul dari software yang digunakan, terdapat mode Game yang memiliki fitur Tonemaker,
- Sades SA-905 dengan mengandalkan 7.1 Channel juga berhasil memberikan power pada output audio pada headset, sehingga member hasil yang jelas pada saat digunakan dalam permainan
Score : Bloody = 9.0 / Sades = 7.0

2. Untuk Movie : Bloody G501 menggunakan mode 7.1 channelnya, begitu pula Sades SA-905 menggunakan keunggulan mode 7.1 ch.
- Bloody G501 memiliki keistimewaan kelembutan hasil suaranya, lebih ringan dan mantab saat muncul special effek 7.1 pada filem, hal ini didukung dengan fisik headset Bloody yang ringan menambah keunggulan pada sisi kenyamanan.
- Sades SA-905 memiliki keistimewaan dari power soundnya, terasa sangat bertenaga, lebih menghentak, hanya ada sisi ketidaknyamanan pada fisik headset saat digunakan, bagian atas terasa menekan kepala atas, terasa agak mengganggu, walau bantalan atasnya sudah diberi bahan lunak.
Score : Bloody = 9.0 / Sades = 8.5

3. Untuk Music : Bloody G501 menggunakan mode 7.1 Ch, Sades juga menggunakan mode yang sama
- Bloody G501 secara performa mengandalkan kelembutan suara, dan satu point keunggulan lain adalah pada Control Switch Bloody memiliki tombol pengubah Profile, sehingga untuk mengubah profile equalizer yang sudah di setup sebelumnya hanya cukup dengan menekan tombol profile pada bagian tengah control switch
- Sades SA-905 memiliki keistimewaan pada power sound dan juga didukung dengan software tambahannya, sepintas fungsi hamper sama, hanya untuk mengubah profil kita harus membuka software terlebih dahulu sebelum mengubah mode equalizer yang kita inginkan
Score : Bloody = 9.0 / Sades = 8.5

Demikian sekilas pengenalan produk Bloody G501, semoga bisa bermanfaat bagi agan-agan yang berkeinginan untuk mengetahui terlebih dahulu jeroan dari Headset Game Bloody G501. Terima kasih

This review is credit To Agan Yudo_w from Kaskus

http://www.kaskus.co.id/post/530ac4fe0d8b46f76e8b457a#post530ac4fe0d8b46f76e8b457a

[Review] Razer Krait 2013

THIS REVIEW IS CREDIT TO : http://www.overclock.net/t/1346183/razer-krait-2013-full-review-pictures-tests-included

VISIT THEM FOR ANOTHER PRODUCT REVIEWS :)

Recently I did an unboxing of the Razer Krait 2013, and due to exams, holidays, and just sheer laziness, I never got around to a review. Though the Krait sat lonely by itself in a corner for over a week now, maybe it’s because of my initial dislike for it that discouraged me from wanting to review this mouse. In any event, it’s lonely yellow shine induced me to use it once again and give it its full credit (or smackdown) that it deserves.

My YouTube review of this found can be found here: http://www.youtube.com/watch?v=76MkvYdzcRQ



Though it’s called the Krait 2013, it doesn’t quite resemble the 1st Generation Krait at all. The only thing similar may be it’s darkish yellow lighting and it’s relatively size, and even it that department the Krait 2013 seems to be pushing it. Razer have effectively taken the Taipan shape and reduced it down to a miniture size akin to that of the Samolsa Asia edition around 5-6 years back. The size is most definitely NOT for people with big hands, and even for supposedly the smaller “Asian” market, in my opinion it’s too small as well. However, for what it’s worth, it does pack a punch of a sensor in the Avago S3988, the same sensor as the new Deathadder 2013, and will set you back around $57.97 on eBay inclusive of shipping. There seems to be a FLOOD of Korean suppliers dying to get these mouse overseas it seems. To my knowledge, the mouse has been officially spotted on the Brazlian / Chinese Razer sites, with the Chinese site charging 299RMB (48USD). Compared to the $69.99 Deathadder 2013and $79.99 Taipan, on the surface it seems like quite a reasonable deal. I’ll be mainly focusing on the shape – comfort / performance on the mouse to determine whether it indeed is worth purchase.

Specifications

- 6400 DPI 4G Optical Sensor

- Ambidextrous form factor

- 3 Programmable Buttons

- 1000Hz Polling Rate / 1ms response time

- Up to 200 IPS / 50g acceleration

- 7ft / 2.1m Rubber cable

- Weight: 78g (Mouse only)

- 177mm x 55mm x 36mm / 4.61″ x 2.32″ x 1.42″

- Synapse 2.0 – PC or Mac with USB 2.0 port

Weight / Shape

As mentioned in the intro, this is a fairly small and light-weighted mouse. For some sense of how light this mouse is, it weighs almost exactly the same as the Kinzu v2 does (Kinzu weighing in at 78g as well. The slightly bulkier Logitech G1 weighs in at 85g, while the IO1.1 weighs in at around 86g. For some reason although the Kinzu is the saem weight, the Krait feels lighter than the Kinzu when held. This may because of the relatively sharper shape which puts on a lighter “placebo” effect on the hand, as the Kinzu is slightly rounder around the edges and the click buttons. Personally, if the shape was slightly more comfortable for my hand, I really believe I wouldn’t mind the lightness of the mouse. As long as it is not overly light in the 50g range, I believe most people won’t find this an issue.

For reference as to hand size, my hand is approximately 19 cm from the tip of my middle finger to the base of my wrist. With my thumb scrunched up next to my index finger, my hand is 10cm wide at it’s longest point. I’m not even quite sure if this is small or normal sized, but what I can tell you, is that the Krait felt extremely small in my palm upon first hold.





The Krait embodies the the shape of it’s elder brother Taipan but in a much smaller form factor. With the popularity of ambidextrous mice back among gamers / casual users, Razer took the approach of making an IO1.1 similar form factor in two different sizes, a similar strategy to SteelSeries who have done this with their Kinzu / Xai / Sensei line of gaming mice. Although they have done this, Razer have by no means detracted for their ergonomic lines like SteelSeries has, and this I support fully. However, the size of the Krait is really bugging me unlike that of the Kinzu v2.









Krait’s overall shape is one thinned and streamlined. The thumb areas curve noticeably curve inwards and back outwards again with the edges of the mouse feeling relatively sharp for a mouse (as opposed to a round-bodied IO1.1). Overall I can appreciate where Razer is going with the shape, the Krait may just be too small for people with larger hands. Notably they’ve released this mouse only in Asian markets to a presumably smaller handed crowd, but it’s hard to imagine one with hands small to find this completely comfortable. Admittedly, I enjoy the Kinzu v2 ALOT, for a smaller on-the-go replacement to my desktop mice of IO1.1 / IE3 and others. Perhaps, this is due to the Kinzu’s fat base which barely rests in the palm of my hand which gives me this comfort that the Krait does not. The Krait embodies much more of a thinner base similar to the Copperhead / Diamondback, although in a smaller form. Even at a full-fledged finger-tip grip, the mouse is barely usable for me, and at a claw grip- the sides become to slippery. People with smaller hands MAY find this more comfortable, but I can only speak from my perspective.

Overall Build Quality

In general, the lower-end Krait feels like it’s made of cheaper plastic, or that’s the immediate feeling I had when I felt it for the first time. The surface feels somewhat rough, matte, dry, and I cannot say that you’re getting extremely durable material out of this mouse. It’s not the smooth matte surface found on the old Deathadders. Compared with Razer’s previous mice, the plasticky feel definitely is a turn off. I can’t really describe this any better but it just feeling cheap.

“Rubber” sides are added on this mouse similar to that of the Deathadder 2013 / Taipan. Admittedly I have yet to try these two mice in person, but the side grips on the Krait 2013 aren’t side grips at all. They’re hexagon patterned dots which feel just as slippery and cheap as the body of the mouse itself. Fair to say, it makes usage that much more uncomfortable. Notably, this mouse is the “cheaper” end “essential” line in Razer’s repertoire, however, for the same price, in terms of purely quality, I prefer the Kinzu far more.

The scroll wheel also resembles a cheap type of rubber slapped onto a plastic wheel. It may seem like I’m giving this mouse the smack down in terms of quality, but it really does feel cheap. It feels almost like someone slapped a tight rubber band on top of the wheel.


The cable isn’t braided, and the USB head… well… its not Golden if that’s what you’re wondering. I never believed that a golden USB head made any difference anyways.

Click / Scroll Wheel

This is a simple three button mouse. Both the left and the right click feel quite moderate. Not extremely hard to press and not extremely light either. Currently I don’t have the tools to measure the exact force required to press down on the key. For reference, the hardness is very similar to the Kinzu v2, and much lighter than the Microsoft IO1.1. However, it doesn’t come in the range of extremely light clicks such as the Ikari, or…. any other light clicks you can think of.

The scroll wheel however, requires quite a good amount of force to press. By far it’s one of the hardest middle buttons I’ve had to press out of all the mice I’ve used before. Razer could’ve definitely made this part lighter.

Additionally, the scroll wheel scrolls relatively smoothly with slight feedback and stoppage at ever juncture. Compared to the Kinzu v2 scroll, it stops at every juncture slightly more. Not as much as the IO1.1 scroll, but just enough that it causes noticeable stoppage. Not my favorite scroll of all time, but I guess it’ll do the job.

Software

As most of you know by now, Razer has moved it’s driver systems in all of their new mice to the cloud. What this means is, your profile is saved on the internet allowing you to access the exact same settings with any computer provided that you install Razer Synapse 2.0 on it. My experience with Razer Synapse 2.0 is quite limited with some complaining that it’s a big inconvenience and others saying it never syncs properly. Perhaps I’m not in the best position to comment on the flexibility and practical usage of the software itself. However, I do find the need to be connected to the internet cumbersome in order to change the settings on the mouse.

The mouse itself does not seem to have onboard memory, which would suggest that it will reset to factory settings every time it’s connected to a new computer. From my tests, I adjusted the settings of the Krait on a Mac and tested it on a PC. Surprisingly, Enotus does seem to retain the settings set in the Mac for both the DPI / Polling. I’m not quite sure if other’s using the same sensor are getting different results, but it seems like the Krait does retain it’s stored settings.

The software allows DPI changes in 100 increments, from a minimum of 100 to a maximum of 6400. Polling rates of 125 / 500 / 1000 can also be chosen. Acceleration can also be adjusted via Synapse 2.0 from 0 – 10. Furthermore, the macro function is quite standard in most gaming mice software though I rarely use it anyhow. This is a fairly big contrast to the DA2013 software where many more things can be adjusted such as LOD calibration. This setting is not present in the Krait 2013 Software.




Sensor

The Krait 2013 uses the Avago S3988 sensor seen in that of the Deathadder 2013. I’ve had the advantage of reading Haiyaa’s review of the sensor and the heated commentary under that review. Indeed, I’m not a complete expert in the field of sensor technology and have been enlightened by posts / comments such as Skylit of how the sensor technology actually works. What I offer here is merely a simple testing of the sensor at the different settings available to the Krait 2013.

All drawing tests are done on the Razer Scarab.

All Maximum speed tests are done on the PureTrak Talent (Blue) due to the size of the pad. I was moving this thing at F1 speeds for testing.




In general the tracking feels extremely smooth at all levels which lead me to believe that the S3988 is running a 6400 DPI native sensor. Tracking so far is one of the best I’ve seen on any mice, and at this price point, it’s pretty hard to beat. Jitter is hardly noticeable or close to none. However, since this mouse isn’t available in American / European markets, purchasing it on eBay from Asian resellers may end up setting you back the same amount, I’d recommend probably going for the DA2013 unless you were extremely interested in a smaller Taipan shaped DA sensor mouse.


Conclusion

The fact that they rebranded the Krait into a smaller version of the Taipan is disconcerting. The Krait in itself had a unique form factor which some people loved whilst others didn’t. However, that was what defined the krait, not exactly this smaller Taipan. At around $57 shipped from eBay, the value is decent, but not great. You’d be better off picking up a 2013 DA from your local dealers for a better valued / better quality mouse.

The build quality is minimal, especially for Razer’s standards. Although it is the lower-end mouse in Razer’s repertoire, the quality you’re getting is honestly quite appalling. Added to the fact that the size is quite uncomfortable for an average sized hand like mine, it’s hard to imagine too many hands liking this particular mouse in terms of its comfort.

However, all is not lost, and it does pack the ever so powerful S3988 sensor that comes with the DA2013. Fair to say I’m slightly disappointed with the mouse. Buyer’s beware, do set your expectations lower for this mouse and I think you’ll be in for a pleasant surprise.

[ Review ] Logitech G400s vs G500s vs G700s

THIS REVIEW IS CREDIT TO
http://www.overclock.net/t/1386834/logitech-g400s-g500s-g700s-review-by-takasta

Review (Overview) of the Logitech G400s / G500s / G700s

Introduction

The news of Logitech releasing their new G-series refreshes has been buzzing on the OC forums for quite some time. Some have found their decisions questionably, whilst others look forward to splurging their money on refreshes of their favorite mice. It’s a very interesting strategy from Logitech taking a page out of Razer and Steelseries by refreshing their mice to make the most out of their designs and hardware. Many of these models have been out for quite a number of years now without a new successor. Reasonably, they’re probably less and less people buying their older mice due to them being so damn well built with a crazy long warranty. However, I feel like the refresh is somewhat welcomed – albeit a small one – to reinvigorate their Gaming brand. Notably, their gaming presence has been greatly diminished by the likes of Razer / SteelSeries and their short refreshes on all their models, *cough xai / DA. But anyways…

I’ve chosen to review all three mice at once in a single forum post, perhaps due to the similar nature of the build quality of the mice, and the similarities that they draw to their predecessors. I have however, released individual video reviews on YouTube, so you guys can check that out if you’re more into video.

G400s Review: http://www.youtube.com/watch?v=rKsLC0iGehU
G400s Unboxing: http://www.youtube.com/watch?v=LkF5mjT_KuM
G400s Button / Scroll: http://www.youtube.com/watch?v=2NX4HDUtfz0

G500s Review: http://www.youtube.com/watch?v=fFOFrkBMCm4
G500s Unboxing: http://www.youtube.com/watch?v=_-vxFcAl-oc
G500s Button / Scroll: http://www.youtube.com/watch?v=avSiBkABDek

G700s Review: http://www.youtube.com/watch?v=nXpIxWKQp1E
G700s Unboxing: http://www.youtube.com/watch?v=Pztcs-se8WU
G700s Button / Scroll: http://www.youtube.com/watch?v=LA5t4hS9eXU

Price:
G400s – $59
G500s – $69
G700s – $99

Weight & Shape:

Own Measurements:

G400s – 70 x 125 x 41cm – 109g (without cord)
G500s – 70 x 128 x 40cm – 121g (without cord) (without weights)
G700s – 80 x 120 x 45cm – 152g (without cord, with battery)

All three sport the same shapes as their predecessors. For all of you that are familiar with those mice, expect the exact same thing in terms of it’s shape. Here are some pictures for viewing pleasure:

G400s




G500s




G700s





Build Quality

By all means, the overall build quality of the mice are of very high standard. More importantly, the biggest (albeit small) change to the refreshes is the surface. Many if not most people think that this is probably just a way to cheap out on redesigning a mouse, by refreshing the surface. However, there are subtle differences to all the surfaces.

If you’ve ever used the older G500, all three surfaces are quite similar to that – fairly smooth, light reflects gently off the surfaces, somewhat comfortable to grip. However, it is a straight up smooth surface unlike that of the G500. To my recollection, the G500 employed a smooth surface with textures that gave the mouse a patterned feeling. In these refreshes, you cannot feel the textures and ti’s a very smooth surface all around. Notably, the G400s surface is slightly more slippery than the G500s & G700s which both employ a fairly similar grip.

For the side grips, nothing much has changed in this department either. The grainy surface remains the same allowing for decent sweat resistant grip which, to be honest I actually somewhat enjoy. The G400s does not have a grainy surface as employes the same smoothy matte surface as the G400 did (as opposed to a sticky more grippy matte surface).

There is very little change in the overall build quality compared to before, which… can be a good thing or a bad thing, depends on how you look at it. I personally think that’s up to you.

Nonetheless, all three mice do seem fairly sturdy in this regard.















Sensor / Performance:

Below you’ll find polling rate tests / speed tests / jitter testing at the respective DPIs.

Summary
G400s: Avago S3095 – upgraded to 4000dpi – adjustable with steps of 50
G500s: Avago S9808 – upgraded to 8200dpi – adjustable with steps of 50
G700s: Avago S9808 – upgraded to 8200dpi – adjustable with steps of 50

Pretty impressive tracking results for the S9808 – even at higher DPI ratings and 1000 polling rate. Wireless tracking for the G700s was quite impressive as well.

Additionally, for people who are concerned about Acceleration issues with the S9808 – I could not test for acceleration on both the G500s and the G700s. Does this mean it’s potentially fixed from it’s old problems of the G500s? maybe… just maybe… until someone else presents results to the contrary, I’m sticking with my result.

All tests done on the Steelseries 5L Mousepad.

G400S















G500S














G700S













Buttons / Switches / Scroll Wheel:

All 3 mice are rated with Omron D2FC-F-7N(20M) Switches for Mouse 1 / Mouse 2. However, the clicks do feel slightly different due to the chassis. Nonetheless, still very similar to the original G400 / G500 / G700.

Scroll wheels are exactly the same – and very distinctive.
G400s – very light, rubber, doesn’t feel as “mechanical” as the other two, same as G400 / MX518
G500s – mechanical – has gear switch – very light and scrolls very quickly from one indentation to the next
G700s – mechanical – gear switch – slightly heavier and requires force from one indentation to the next, has a noticeable stop in between scroll bumps



Software – Logitech’s new Suite

This is probably their newest refresh. Although it doesn’t offer anything substantially different, it has a fairly nice presentation and will do the job well in terms of macroing and programming. The g500s / g700s has onboard memory while the g400s does not.























Conclusion:

So that concludes my short overview of Logitech’s new offerings in the mouse department. Is it worth it? The upgraded sensors on the G500s / G700s might be a deal breaker for some. If you’ve gotten used to the acceleration, it may take some time to adjust back to no acceleration, and to that extent I might not even recommend getting the upgrade if your G500 or G700 isn’t broken. Overall, just a breath of fresh air in terms of looks and sensor, however, nothing too innovative in terms of it’s internals, ergonomics, or firmware.

[Review] TTesports POSEIDON Mechanical Keyboard

THIS REVIEW IS CREDIT TO :

Thermaltake TteSports Poseidon

Thermaltake TteSports Poseidon

Keyboard memang menjadi salah satu elemen paling krusial untuk menikmati pengalaman PC gaming secara optimal, apalagi ketika Anda harus berkutat dengan genre yang memang membutuhkan kombinasi tombol yang lebih kompleks daripada sekedar bergerak maju dan mundur. Karena pada akhirnya, semua peripheral diciptakan untuk satu tujuan yang sama: menawarkan kenyamanan yang paling maksimal. Kondisi dimana Anda tidak harus berhadapan dengan serangkaian masalah kecil yang mungkin bisa diakibatkan dari kelelahan atau keterbatasan fungsi dari peripheral yang Anda miliki. Di ranah keyboard, solusi ini ditawarkan oleh desain mekanikal yang kini seolah menjadi standar tersendiri di kalangan produsen. Seperti Thermaltake yang akhirnya meluncurkan keyboard gaming mekanikal terbarunya – Poseidon.

Desain dan Fitur

Thermaltake tidak menghadirkan fitur "ajaib" di Poseidon ini. Ia ditawarkan sebagai sebuah keyboard mekanikal standar yang memang ditujukan untuk menjalankan misi utamanya - menyediakan pengalaman gaming super nyaman dengan optimal.

Thermaltake tidak menghadirkan fitur “ajaib” di Poseidon ini. Ia ditawarkan sebagai sebuah keyboard mekanikal standar yang memang ditujukan untuk menjalankan misi utamanya – menyediakan pengalaman gaming super nyaman dengan optimal.

Sederhana, kata yang satu ini mungkin akan langsung meluncur dari mulut Anda ketika melihat Thermaltake Poseidon ini untuk pertama kalinya. Berbeda dengan sebagian produk kompetitor yang memperlihatkan kesan yang unik lewat penempatan atau penambahan ekstra tombol di sana-sini, Poseidon mengakar pada desain sebuah keyboard konvensional, dan bahkan terkesan jauh lebih ringkas. Anda tidak akan berhadapan dengan ruang tidak berguna yang mungkin akan menyita ruang kerja Anda. Dengan desain melengkung yang rapi di setiap sudut dan bentuk yang sangat compact, Poseidon tetap mampu menewarkan desain solid dan elegan yang terasa kentara sejak Anda pertama kali menggunakannya.

Bentuknya yang terhitung lebih kecil dibandingkan keyboard kompetitor yang lain tidak lantas membuat Thermaltake Poseidon tidak nyaman digunakan. Setiap tuts tetap hadir dengan ukuran proporsional yang akan memfasilitasi kecepatan tangan Anda untuk menari di atasnya, walaupun membutuhkan sedikit penyesuaian di awal. Lantas bagaimana dengan sisi kosmetik? Tenang saja, Anda tidak mungkin membawa nama besar seorang Dewa Laut yang ikonik sekelas Poseidon tanpa mampu menawarkan identitas yang mengalir kental di dalamnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, Thermaltake menyuntikkan keyboard ini dengan lampu biru yang akan menerangi semua bagian keyboard secara merata, seolah merepresentasikan kedalaman laut yang memang menjadi kekuasaan Poseidon sendiri.

Anda tidak akan menemukan ekstra tombol atau slot apapun di keyboard yang satu ini.

Anda tidak akan menemukan ekstra tombol atau slot apapun di keyboard yang satu ini.

Sesuai dengan temanya - "Poseidon" yang notabene merupakan seorang dewa laut, keyboard ini juga menawarkan atmosfer serupa lewat pemilihan lampu LED yang menyala lembut.

Sesuai dengan temanya – “Poseidon” yang notabene merupakan seorang dewa laut, keyboard ini juga menawarkan atmosfer serupa lewat pemilihan lampu LED yang menyala lembut.

Dengan desain konvensional dan minimnya ekstra tombol yang bisa Anda gunakan untuk mengkustomisasi fungsi yang dibutuhkan dalam gaming, Thermaltake memang seolah memosisikan Poseidon untuk gamer yang memang berkutat di genre yang tidak membutuhkan kombinasi gerakan yang kompleks. Karena pada akhirnya, daya tarik utamanya selalu jatuh pada keputusan untuk menjadikan mekanikal sebagai identitas utama.

Thermaltake Poseidon, Seberapa Nyaman?

Thermaltake Poseidon, seberapa nyaman?

Thermaltake Poseidon, seberapa nyaman?

Mekanikal memang menjadi salah satu varian keyboard paling nyaman yang bisa Anda dapatkan di pasaran saat ini. Walaupun ditawarkan dengan range harga yang lebih mahal dibandingkan dengan membran, namun mekanikal selalu hadir dengan ekstra kualitas yang tidak tertandingi. Feedback yang lebih baik, anti-ghosting, dan kenyamanan untuk menggunakannya menjadi salah satu nilai jual yang juga ditawarkan oleh Thermaltake Poseidon ini. Bentuk yang lebih kecil tidak lantas akan membuat tangan Anda canggung ketika menggunakannya, baik untuk gaming atuapun ketika mengerjakan sesuatu yang lebih serius. Akurasi perintah yang mampu ia tawarkan akan cukup untuk membuat pengalaman Anda bebas masalah, apalagi ketika Anda terlibat dalam game-game yang memang membutuhkan eksekusi super cepat, dari satu perintah ke perintah lainnya. Tidak perlu takut bahwa Anda harus berhadapan dengan kesalahan minim yang mungkin akan berakibat fatal, seperti perintah yang tidak diterjemahkan dengan baik misalnya.

Bentuknya yang sederhana dan ringkas membuat Poseidon cukup mobile. Ukuran tuts yang proporsional juga tidak akan membuat Anda canggung.

Bentuknya yang sederhana dan ringkas membuat Poseidon cukup mobile. Ukuran tuts yang proporsional juga tidak akan membuat Anda canggung.

Sayangnya, seperti bentuk fisiknya, Poseidon juga tidak didukung dengan perangkat lunak sama sekali. Tidak ada kesempatan untuk memodifikasi apapun.

Sayangnya, seperti bentuk fisiknya, Poseidon juga tidak didukung dengan perangkat lunak sama sekali. Tidak ada kesempatan untuk memodifikasi apapun.

Sebegitu konvensional dan sederhananya desain Thermaltake Poseidon ini, Anda bahkan tidak akan menemukan ekstra slot apapun di bagian bodinya. Tidak ada slot USB untuk membantu Anda memasang perangkat berbasis slot ini di keyboard, atau bahkan ekstra tombol multimedia yang biasanya menjadi “standar” tombol ekstra. Semuanya dikorbankan untuk menghasilkan sebuah desain keyboard yang ringkas, kecil, dan pastinya – lebih mobile jika Anda ingin membawanya. Sayangnya, kesederhanaan ini juga menihilkan modifikasi apapun, terutama dari sisi perangkat lunak. Thermaltake Poseidon tidak menyediakan driver sama sekali. Ini adalah sebuah keyboard mekanikal standar yang lugas, dimana ia memang didesain hanya untuk menjalankan fungsi utamanya saja, sebagai pintu gerbang input yang bisa diandalkan.

Cherry MX Brown menawarkan feedback yang reaktif dan presisi di saat yang sama. Kenyamanan yang tentu saja diimpikan oleh banyak gamer.

Cherry MX Brown menawarkan feedback yang reaktif dan presisi di saat yang sama. Kenyamanan yang tentu saja diimpikan oleh banyak gamer.

Tidak perlu diragukan lagi, game sekelas Bioshock Infinite: Burial at Sea dan DOTA 2 tidak menawarkan tantangan yang berarti untuk keyboard yang satu ini.

Tidak perlu diragukan lagi, game sekelas Bioshock Infinite: Burial at Sea dan DOTA 2 tidak menawarkan tantangan yang berarti untuk keyboard yang satu ini.

 

Dengan menggunakan Cherry MX Switch Brown sebagai pondasi, Thermaltake Poseidon menawarkan ekskusi gerakan yang presisi, nyaman, walaupun tetap menghasilkan sedikit polusi suara. Semua hal yang Anda butuhkan untuk bermain game tentu saja, terlepas dari absennya fungsi makro untuk beragam modifikasi yang ada. Kami sendiri menjajalnya di tiga buah game utama, dengan genre yang berbeda. Kami menjadikannya sebagai tumpuan utama untuk proses review Bioshock Infinite: Burial at Sea yang notabene tidak kompleks. Poseidon dengan mudah akan memfasilitasi kebutuhan Anda yang sederhana ini. Ujian terberat mungkin hadir lewat DOTA 2 yang memang menuntut Anda untuk bergerak lincah dari satu tombol ke tombol lainnya, mengeksekusi setiap kombinasi serangan dengan tepat. Fitur anti-ghosting memainkan peranan penting untuk menangani hal yang satu ini. Thermaltake Poseidon memperlihatkan tajinya sebagai sebuah keyboard gaming yang bisa diandalkan.

[Review] Okaya Battlecat G100-L Gaming Mouse

This review is credit to agan yudo_w :

http://tinyurl.com/mx8druw

Gan kali ini ane mau ngasih review produk lagi, Mouse Battlecat G100-L, mouse keluaran dari brand Okaya, kali ini Okaya mulai mengembangkan produk multimedianya ke produk gaming.

Sebenernya ada beberapa macam gaming mouse baru dari brand Okaya ini, G100-L, G200-L, G300-U, G400-U, G500-L. Sekelompok gaming mouse ini hampir memiliki persamaan difungsinya, hanya salah satu perbedaannya adalah di jumlah tombol mouse-nya. Kali ini yang akan ane tampilkan buat agan-agan tercinta, adalah Battlecat G100-L, Gaming Laser Mouse dengan 11 tombol untuk berbagai fungsi.

Fitur dan spesifikasi :

Gaming mouse Battlecat G100-L ini memiliki fitur-fitur antara lain : 11 Tombol mouse untuk kebutuhan macro program, dilengkapi dengan Weight Tuning untuk penambahan bobot mouse sesuai dengan kebutuhan pengguna, tombol pengubah DPI mouse, mampu mengubah DPI mulai dari 500 hingga 5000 DPI, juga dilengkapi dengan tombol standard Double Click, dan variasi tambahan adjustable changing LED color, tombol untuk mengubah warna tampilan LED.


Gambar mouse di atas meja


Gambar mouse dalam kemasan


Gambar isi kemasan

Ane mulai dari bagian lapisan atasnya ya Gan, pada bagian telapak tangan, bahan glossy mouse berwarna hitam dikombinasi dengan variasi abstrak warna abu-abu, dilengkapi grip karet pada sisi pegangan kiri dan kanan. Grip ini membuat jari tidak mudah selip saat menggunakan mouse ini. Ukuran mouse yang panjangnya 12cm, tinggi 4cm, lebarnya 9cm (lebar termasuk bagian samping kiri kanan mouse yang diberi grip karet). Untuk tangan ane sih cocok dan pas untuk bentuk model mouse ini.

Mouse ini juga dihiasi dengan Breathing Light, dibalik logo Battlecat pada mouse terdapat LED yang menyala dan mati perlahan secara berkala, pergerakan LED ini membuat seolah-olah mouse ini bernafas, makanya muncul istilah Breathing Light.


Gambar mouse sisi atas

Pada bagian tengah mouse terdapat scroll mouse dan tombol DPI, tombol DPI ini di aktifkan dengan menggeser tombol DPI ke atas atau kebawah. Pada bagian samping kiri klik kiri mouse, terdapat LED indikator berwarna biru, LED akan berpindah pindah menyesuaikan DPI yang diaktifkan, semakin besar ukuran DPI, LED akan bergerak ke atas, dan bergerak kebawah bila ukuran DPI-nya di kecilkan.

Seperti yang disebutkan pada fiturnya, mouse Battlecat G-100L ini memiliki 11 tombol yang dapat dimanfaatkan untuk program macro, yang biasanya dipakai pada game-game FPS (First Person Shooter alias game menembak spt battlefield, call of duty, dll.) Posisi tombol seperti tampak pada gambar.


Gambar posisi 11 tombol

Penempatan satu tombol tambahan pada sisi kiri dan satu di sebelah kanan pada mouse ini, ane rasa udah cukup tepat. terutama tambahan tombol di sisi kiri, bila lebih dari satu ane rasa bakal mengganggu kenyamanan jari pada saat kita menggunakan tombol mouse, apalagi waktu digunakan saat situasi permainan yang darurat dan butuh gerakan cepat dari mouse. Maksud Ane darurat itu pas main game, panik, musuhnya banyak, salah pilih senjata, kalo tombol pilihannya terlalu banyak malah bingung mencet yg mana, hehe..


Gambar posisi samping

Fungsi tombol mouse tambahan untuk yang disebelah kiri, bagian atas kiri, standard penggunaan untuk back dan forward (terutama untuk kebutuhan browsing internet), untuk tombol kiri bawah standard penggunaannya adalah sebagai tombol double click (untuk membuka program, 2x klik, mirip standard bawaan-nya mouse A4tech) jadi anda tidak perlu meng-klik 2x tombol kiri mouse untuk membuka program, cukup dengan meng-klik tombol tambahan tadi, jadi secara tidak langsung menjaga keawetan umur tombol kiri mouse.

Fungsi standard untuk tombol tambahan di sebelah kanan atas mouse, dalam kondisi biasa, tanpa setting software, tombol ini berfungsi untuk merubah warna Lampu mouse.


Gambar bagian bawah

Pada bagian bawah mouse terdapat lobang dengan penutup plastik, berisi 6 buah logam berbentuk bulat yang berfungsi sebagai weight tuning (penambah beban mouse). Penambahan beban ini bermaksud untuk memantapkan posisi mouse agar kursor tidak gampang bergeser. Juga bagi pengguna mouse yang merasa mouse standard terlalu ringan, disinilah fungsi weight tuning mulai dibutuhkan.

Pada paket mouse Battlecat G100-L disertakan cd software, untuk mengaktifkan fitur tambahan mouse yaitu untuk seting tombol tambahan. Untuk tombol selain tombol standard, dapat diseting untuk pengganti tombol keyboard. Pada menu software G100-L ini terdapat beberapa pilihan pengubah fungsi tombol, Basic, Advanced, Media, Macro

Pilihan Basic : Cut – Copy – Paste – Sellect All – Find – New – Print – Save. Perintah-perintah tersebut rasanya familiar bukan? Karena fungsi-fungsi tersebut memang banyak digunakan untuk aplikasi seberti MS-Word, Excel, dan berbagai document software. Agan bisa pakai salah satu atau tombol-tombol tambahan tadi untuk mendukung kinerja agan saat bekerja di software document, misalkan tombol tambahan kanan di pakai untuk fungsi “save” document,

Pilihan Advanced : DPI+ – DPI- – led color switch – tilt left – tilt right – switch windows – close windows – Open explorer – Run – show desktop – lock PC. Perintah-perintah tadi banyak digunakan untuk fasilitas windows

Pilihan media : Play/Pause – Stop – Previous – Next – Volume Up – Volume Down – Mute. Perintah tersebut banyak digunakan di media player, untuk menyalakan file multimedia (music, film, dll)

Pilihan : Macro. Untuk perintah ini, digunakan untuk kebutuhan para gamer yang ingin mengefisienkan, kecepatan respon, kecepatan loading senjata, pergantian / swap senjata yang benar-benar membutuhkan aksi cepat.


Gambar tampilan software G-100L

Kesimpulan :

Secara keseluruhan mouse ini memenuhi semua syarat untuk kebutuhan gaming mouse, dari besar DPI yang mensupport hingga 5000 Dpi, memberi kemudahan untuk pengguna layar monitor berukuran besar, tambahan tombol mouse berfungsi untuk tombol pengganti keyboard, cukup untuk kebutuhan program macro, tambahan software untuk setting tombol mouse sangat penting untuk para gamer, khususnya untuk FPS game, dan untuk weight tuning, menjadi tambahan plus untuk kelengkapan gaming mouse, meskipun weight tuning ini tidak mutlak dibutuhkan untuk setiap pengguna mouse atau para gamer. Dengan harga yang tergolong rendah untuk gaming mouse yang setara, mouse Battlecat ini cukup bisa di andalkan untuk kebutuhan para gamer.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.